Header Ads

Kepahlawanan Kumbokarno



Raden Kumbokarno adalah putra ke dua dari Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi.  Kisah kelahiran 4 putra Ngalengko ini menarik untuk di simak. Dewi Sukesi sebagai putri dari Prabu Sumali , Raja Ngalengko, dalam mencari suami memberikan bebono atau permintaan yang mungkin rada aneh untuk seorang putri raja yang secara umur masih sangat muda.

Dewi Sukesi hanya mau menikah dengan orang yang bisa mbabar ilmu Sastrojendro Hayuningrat pangruwating diyu. Hanya orang yang sudah gentur tapane yang mampu mengajarkan dan diajarkan ilmu tersebut.

Akhirnya datanglah Resi Wisrawa yang datang melamar atas nama putranya yaitu Prabu Danaraja. Akhirnya , Resi Wisrawa mulai member wejangan tentang ilmu tersebut kepada dewi Sukesi. Saat member wejangan itulah ada pengaruh dari ajaran sastrajendra hayuningrat tersebut, resi wisrawa merasa seakan muda kembali dan bergairah kembali dengan pesona kecantikan Dewi Sukesi.

Saat itu yang terjadi  adalah hasrat dan nafsu yang tidak terkendali oleh resi wisrawa dan dewi sukesi. Hal ini berakibat Dewi Sukesi hamil dan akhirnya , Resi wisrawa dinikahkan dengan dewi Sukesi oleh Prabu Sumali. Mungkin itulah rahasianya, sehingga ilmu sastrajendra hayuningrat hanya boleh diwejangkan kepada orang yang sudah gentur tapane dan kuat secara batiniah.

Akhirnya, dewi Sukesi melahirkan empat bersaudara yang melambangkan nasfsu – nafsu manusia. Dosomuko atau Rahwono yang angkara murka melambangkan nafsu amarah. Kombakarna yang pemalas melambangkan nafsu aluwammah, Sarpokenoko yang selalu menuruti gejolah birahinya melambangkan nafsu sufiyah dan Gunawan Wibisono yang lemah lembut melambangkan nafsu muthmainnah.

Kumbakarno berwujud raksasa putih atau bule, yang memiliki sifat berbeda dengan raksasa pada umumnya. Kumbokarno memiliki sifat lembut, berpihak pada kebenaran, kejujuran dan selalu netepi watak satrio utomo. Semenjak muda, Kumbokarno sering bertapa untuk mencari anugerah dan kesaktian dari dewata.

Kumbokarno tinggal di kesatrian Pangleburgonso. Di kesatrian itu, dia hidup dengan istri dan 2 putranya. Istri kumbokarno adalah seorang widodari dari kahyangan bernama Batari Kiswani. Adapun dua putra laki-lakinya bernama Kumba Kumba dan Aswani Kumba.

Sikap Kumbokarno Pada Rahwono
Kumbokarno tahu bahwa kakaknya selalu menuruti keinginan dan keangkaramurkaanya. Dari mulai saat menyerbu Maespati karena ini memperistri Dewi Citrawati, menyerbu kahyangan untuk memperistri batari Tari dan membunh kakak tirinya, Prabu Donorojo. 

Dan puncaknya adalah saat Rahwono menculik Dewi Sinta yang merupakan istri dari Prabu Rama Wijaya. Sudah banyak dia mengingatkan sang kakak akan perbuatannya yang salah, yang ningal sarak nyingkiri bebener itu.
Akibat menasehati kakaknya membuat Rahwono marah besar dan   kumbokarno diusir dari Ngalengko.

Setelah diusir, kumbokarno menetap di Gunung Gohkarno untuk menjadi pertapa, untuk menghindari perang besar antara Ngalengko dengan Prabu Rama Wijaya. Kumbokarno tidak mau terlibat perang untuk membela keangkara murkaan Rahwono.

Namun, niat menghindari peperangan itu tidak terlaksana karena Rahwono menyuruh Indrajid untuk memanggilnya guna membela negaranya yang terncam kalah dalam peperangan itu. Akhirnya Kumbokarno turun dari Gunung Gohkarna untuk maju berperang, namun Kumbokarno menegaskan, bahwa dia maju berperang bukan membela kakaknya yang jelasa berada pada pihak yang salah, namun dia berperang untuk membela negerinya, membela tanah airnya, ngrungkepi bumi pertiwi, dan  siap labuh pati sebagai prajurit Ngalengko.

Kumbokarno Gugur
Bukan rahwono kalau tidak licik, dan jahat. Untuk mengobarkan amarah Kumbokarno, Rahwono menculik dan menyembunyikan dua anak Kumbokarno , yaitu Kumbo Kumbo dan Aswani Kumbo dan mengatakan pada Kumbokarno kalau kedua anaknya telah gugur di medan pertempuran.

Akhirnya mengamuklan Kumbokarno di medan perang, membuat pasukan kera dan pasukan Prabu Rama Wijaya kocar kacir.  Pengamuke Kumbokarno itu tidak akan selesai jika tidak dihadapi Rama dan Laksmana secara bersama sama. Demikian saran strategi dari raden Gunawan Wibisono kepada Prabu Rama Wijaya.

Akhirnya, Raden Laksamana melepaskan panah sakti Wijayacapa dan Prabu Rama Wijaya melepaskan panah sakti GoaWijaya secara bersamaan yang membuat tubuh kumbokarno terpotong menjadi beberapa bagian dan gugur di medan pertempuran dalam rangka membela negaranya, tanah tumpah darahnya, kerajaan Ngalengko.

Kepahlawanan Kumbokarno
Dalam mengupas kepahlawanan Kumbokarno ini, kita perlu membuka kembali bait tiga dan empat tembang Dhandangulo dalam Serat Tripomo yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegoro IV.

Wonten malih tuladan prayogi,
Satriya gung nagari Ngalengko,
Sang Kumbakarno namane,
Tur iku warna diyu,
Suprandene nggayuh utami,
Duk awit prang Ngalengko,
Dennya darbe atur,
Mring raka amrih raharja,
Dasamuka tan keguh ing atur yekti,
De mung mungsuh wanara.
Kumbakarno kinen mangsah jurit,
Mring kang rak sira tan lenggana,
Nglungguhi kasatriyane,
Ing tekad datan purun,
Amung cipta labih nagari,
Lan nolih yayahrena,
Myang luluhuripun,
Wus mukti aneng Ngalengko,
Mangke arsa rinusak ing bala kali,
Punagi mati ngrana.

Bait ke tiga dan keempat ini berkisah tentang Kumbakarno seorang raksasa yang merupakan adik dari Prabu Dasamuka (Rahwono) dari Ngalengko. Ia merupakan sosok yang memiliki jiwa kesatria serta semangat cinta tanah air. Saat Ngalengka diserang oleh tentara kera, kumbakarno turut maju, bukan untuk membantu kakaknya yang bersalah melainkan untuk maju sebagi seorang kesatria yang berusaha membela dan mempertahankan tanah kelahiran dan tanah peninggalan leluhurnya. Dan pada akhirnya ia pun gugur dimedan perang.

Kumbokarno telah mengajarkan untuk berjuang membela tanah air tanpa harus mendukung kemungkaran. Perjuangannya tanpa pamrih, sekalipun ia harus mengorbankan nyawanya. Sebuah prinsip dan pilihan hidup yang patut jadi renungan. Dalam hal ini seorang Kumbokarno memegang prinsip “ Right or Wrong is my Country”.

Dalam melihat heroisme Kumbokarno ini, paling tidak kita bisa melihat dari beberapa sudut pandang, atara lain :
1. Perang batin
Dihadapan telah terjadi perang dan perang tersebut menimpa negeri Ngalengko. Tanpa sebab yang harus dijelaskan lebih lanjut, perang menyeret diri Kumbokarno untuk secepatnya mengambil sikap bagi negerinya Ngalengko. Dalam kesadaran yang dibangun kemudian, bahwa perang ada didepan kita dan tidak dapat lagi terelakkan. Diperlukan langkah-langkah agar perang ini dapat segera diselesaikan. Pilihan sebagai eksistensi menempatkan Kumbokarno harus bertindak berdasarkan kebebasan yang ia miliki.

2. Suara hati
Suara hati Kumbokarno menilai bahwa Rama Wijoyo adalah simbol kebenaran yang tidak dapat dikalahkan. Kebenaran adalah junjungan Kumbokarno selama ini dan kebenaranlah yang selama ini ditakutkan oleh Kumbokarno. Hal ini yang membuat cemas Kumbokarno, karena suara hati Kumbokarno menilai bahwa Rama adalah titisan Wisnu pembawa kebenaran di muka bumi, Rama datang untuk memusnahkan keangkaramurkaan yang diwakilkan oleh Rahwono. Suara hati Kumbokarno menilai bahwa Rama  tidak bersalah dan tidak perlu diperangi.

3. Jiwa patriotik
Tanah adalah harta pusaka yang melambangkan harga diri, terlebih jika tanah itu adalah tanah warisan para leluhur yang selalu dipuja-puja. Harta yang harus dipertahankan dari kekuasaan pihak lain, karena tanah tersebut tempat kita dilahirkan, tempat kita mencari penghidupan dan kehidupan; tanah tumpah darah.

Sikap Kumbokarno ini merupakan sebuah keputusan yang tepat, ketika seseorang harus memilih untuk ikut serta dalam perang membela negerinya, dan membayangkan bahwa pilihan tersebut mengharapkan manusia lainnya juga mengambil pilihan yang sama. Kecerahan akan keyakinan sikap akan maju kemedan perang ini sejalan dengan suatu keyakinan, manusia dapat menghayati suatu persoalan dan menghayati siapa dirinya.

Keyakinan adalah hal penting berdasarkan refleksitas manusia dalam memandang persoalan dan manusia rela mati dalam keyakinannya tersebut dikarenakan keyakinan yang tertanam mendalam dalam hati .

4. Peran cinta
Bagi seorang Kumbokarno, mati sebagai kusuma negara adalah harga tertinggi suatu perjuangan dan menyimbolkan sebuah dharma bhakti  yang tulus. Keyakinanlah yang membimbing Kumbokarno bergerak maju menjemput perang dan sekaligus meninggalkan Rahwono. Ini adalah sebuah ekspresi cinta yang tinggi untuk negeri , tanah tumpah darah ini.

Rujukan :
Hendri, Dimas. 2008. Serat Tripama. Yogyakarta: Nuansa Aksara
Layung Kuning, Bendung,2011, Atlas Tokoh Wayang, Riwayat Hidup dan Silsilahnya. Yogyakarta,

**Penulis adalah Alumni KAMMI, Eks.Senat Mahasiswa UGM, Jogkarta


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.